Kupiah Meukeutop, Topi Tradisional Dari Aceh
Kupiah meukeutop merupakan topi tradisional yang berasal dari Aceh. Topi ini umumnya digunakan sebagai pelengkap pakaian adat bagi kaum pria ketika sedang mengikuti upacara adat maupun seremonial lainnya. Bagi masyarakat Aceh, kupiah meukeutop tidak hanya bernilai dari segi adat, namun juga penuh dengan nilai sejarah. Kupiah meukeutop ini lebih diindentikkan dengan topi kebesaran yang kerap dipakai oleh Teuku Umar, yaitu pahlawan nasional asal Provinsi Aceh.
Sejarah Kupiah Meukeutop
Tidak ada sumber sejarah pasti yang menjelaskan kapan dan siapa pertama kali yang memakai kupiah meukeutop ini. Namun jika dilihat dari foto-foto para tokoh pahlawan asal Aceh, tidak hanya Teuku Umar yang memakai kupiah. Panglima Polem (1845-1879) pun juga memakai hal serupa. Bahkan kupiah yang dipakai oleh Sultan Muhammad Daud Syah dan juga Panglima Polem lebih menyerupai kupiah meukeutop yang ada seperti saat ini. Baik itu dari bentuk maupun motifnya.
Dalam Kitab “Tazkirah Thabaqat” menjelaskan bahwa ketika akan menghadap Paduka Sri Baginda Sultan Aceh, siapapun tidak dibolehkan memakai pakaian sendiri, kecuali orang Arab dan Alim ulama, namun tidak dibolehkan memakai warna kuning dan juga warna hijau. Sementara yang lainnya ketika menghadap Sultan diwajibkan untuk memakai pakaian Aceh yang di antaranya adalah Tengkuloek Aceh berkasab, baju Aceh berkasab, Kupiah Aceh, berkain selimpang dari kanan ke kiri memakainya berkasab, kain pinggang berkasab, seluar berkasab, memakai rencong atau keris atau badik atau siwah atau rachuh yang berhulu suasa atau perak atau emas serta barang sebagainya di depan sebelah kanan.
Meski latar belakang kemunculan dari kupiah meukeutop ini masih belum jelas, tetapi topi adat Provinsi Aceh ini sudah menjadi ikon kebudayaan dan sejarah yang begitu melekat dengan masyarakat Provinsi Aceh.
Dalam Kitab “Tazkirah Thabaqat” menjelaskan bahwa ketika akan menghadap Paduka Sri Baginda Sultan Aceh, siapapun tidak dibolehkan memakai pakaian sendiri, kecuali orang Arab dan Alim ulama, namun tidak dibolehkan memakai warna kuning dan juga warna hijau. Sementara yang lainnya ketika menghadap Sultan diwajibkan untuk memakai pakaian Aceh yang di antaranya adalah Tengkuloek Aceh berkasab, baju Aceh berkasab, Kupiah Aceh, berkain selimpang dari kanan ke kiri memakainya berkasab, kain pinggang berkasab, seluar berkasab, memakai rencong atau keris atau badik atau siwah atau rachuh yang berhulu suasa atau perak atau emas serta barang sebagainya di depan sebelah kanan.
Loading...
Meski latar belakang kemunculan dari kupiah meukeutop ini masih belum jelas, tetapi topi adat Provinsi Aceh ini sudah menjadi ikon kebudayaan dan sejarah yang begitu melekat dengan masyarakat Provinsi Aceh.
Bentuk Kupiah Meukeutop
Kupiah meukeutop ini terbuat dari bahan kain yang berwarna dasar merah dan kuning. Kain dirajut menjadi satu, berbentuk lingkaran. Pinggiran bawah kupiah, terdapat motif anyaman yang dikombinasikan dengan warna hitam, hijau, merah dan juga kuning. Anyaman serupa terdapat dibagian tengah, yang dibatasi dengan lingkaran kain hijau dibagian atasnya dan kain hitam dibagian bawah.
Pada lingkaran kepala bagian bawah, ada motif yang lebih dominan, yaitu berbentuk “lam” di dalam huruf hijaiyah. Namun terdapat garis yang menyambung diantara bagian bawah dan bagian atas motif tersebut. Motif yang sama juga ada di lingkaran kepala dibagian atas. Hanya saja ukurannya lebih kecil. Pada bagian paling atas, ada rajutan benang putih sebagai alas mahkota kuning emas, bertingkat tiga. Warna yang digunakan mempunyai makna tersendiri.
Pada lingkaran kepala bagian bawah, ada motif yang lebih dominan, yaitu berbentuk “lam” di dalam huruf hijaiyah. Namun terdapat garis yang menyambung diantara bagian bawah dan bagian atas motif tersebut. Motif yang sama juga ada di lingkaran kepala dibagian atas. Hanya saja ukurannya lebih kecil. Pada bagian paling atas, ada rajutan benang putih sebagai alas mahkota kuning emas, bertingkat tiga. Warna yang digunakan mempunyai makna tersendiri.
Filosofi Kupiah Meukeutop
Dalam kupiah meukeutop terdapat warna 5 warna yang masing-masingnya mempunyai makna tersendiri. Pada warna merah melambangkan kepahlawanan, warna kuning artinya kerajaan atau negara, warna hijau menandakan agama, warna hitam berarti ketegasan atau ketetapan hati, sedangkan warna putih bermakna kesucian atau sebuah keikhlasan.
Secara keseluruhan, kupiah meukeutop ini terbagi dalam 4 bagian. Sama halnya seperti warna kupiah meukeutop, tiap bagian pun juga mempunyai arti tersendiri. Pada bagian pertama bermakna hukum, pada bagian kedua, bermakna adat, sedangkan pada bagian ketiga bermakna kanun dan pada bagian keempat bermakna reusam. Bentuk dan juga motif kupiah meukeutop secara umum sama. Hanya saja warna pada kain songket yang membalut lingkaran kupiah berbeda. Umumnya disesuaikan dengan warna songket pada pakaian adat.
Secara keseluruhan, kupiah meukeutop ini terbagi dalam 4 bagian. Sama halnya seperti warna kupiah meukeutop, tiap bagian pun juga mempunyai arti tersendiri. Pada bagian pertama bermakna hukum, pada bagian kedua, bermakna adat, sedangkan pada bagian ketiga bermakna kanun dan pada bagian keempat bermakna reusam. Bentuk dan juga motif kupiah meukeutop secara umum sama. Hanya saja warna pada kain songket yang membalut lingkaran kupiah berbeda. Umumnya disesuaikan dengan warna songket pada pakaian adat.
Perkembangan Kupiah Meukeutop
Saat ini kupiah meukeutop sudah mampu menunjukkan kekhasan Aceh pada dunia. Bentuknya yang unik dan juga indah, membuat kupiah meukeutop ini kerap kali dijadikan souvenir yang sangat menarik. Kopiah Meukutop ini hampir bisa ditemukan disetiap kabupaten dan kota di Provinsi Aceh, kecuali untuk daerah-daerah tertentu yang pada pakaian adatnya berbeda.
Suka artikel berjudul Kupiah Meukeutop, Topi Tradisional Dari Aceh, Yuk bagikan ke: