Wayang Golek, Kesenian Wayang Dari Jawa Barat
Loading...
Banyak orang mengira jika wayang berasal dari India karena sumber cerita yang terkenal dan juga sering dimainkan, seperti cerita Mahabharata dan Ramayana. Namun tidak ada bukti yang menunjukkan hal tersebut, dan malah setelah melakukan penelitan lebih jauh, para ahli wayang lalu berkesimpulan jika wayang adalah kreasi asli orang Indonesia.
Wayang Kulit telah muncul terlebih dahulu sebagai tradisi kuno yang hanya dimainkan dimalam hari dengan bantuan cahaya blencong, yaitu sejenis alat penerangan berbahan bakar minyak tanah. Kemudian pada tahun 1583, muncullah Wayang Golek. Pada awalnya, Sunan Kudus memperkenalkan boneka kayu sebagai alternatif pertunjukan yang bisa dimainkan pada siang hari. Boneka kayu inilah yang kemudian dikembangkan menjadi Wayang Golek khas dari Jawa Barat.
Pada awal-awal kemunculannya, bentuk wayang menyerupai figur manusia. Namun setelah kedatangan agama Islam, bentuk wayang lalu berubah dikarenakan agama Islam melarang pemeluknya menciptakan benda yang sangat mirip dengan seorang manusia.
Maka wayang pun berubah bentuk menjadi seperti makhluk yang sebenarnya bentuknya masih mirip dengan bentuk manusia, namun bagian-bagian tubuhnya sengaja dibuat untuk tidak proporsional tetapi tetap mewakili tokoh khusus. Di dalam pertunjukan Wayang Golek, sang dalanglah yang menggambarkan perasaan dari boneka-boneka yang dimainkannya, sekaligus menceritakan lakon atau cerita yang sedang dimainkan.
Lakon yang dimainkan dapat berupa cerita sempalan (yaitu cuplikan dari cerita sumber) atau carangan (yaitu cerita yang merupakan improvisasi dalang ketika mengadakan pertunjukan) atau langsung menggunakan cerita dari sumber seperti Mahabharata dan Ramayana.
Jika menggunakan cerita sempalan atau carangan, biasanya pertunjukan Wayang Golek ini hanya berlangsung dalam 4 (empat) atau 5 (lima) alur cerita, dengan durasi dalam hitungan jam. Namun jika menggunakan cerita sumber, durasinya dapat sampai semalam suntuk, dengan alur cerita yang lebih banyak dan juga kompleks. Banyak nilai yang dapat disampaikan atau dipelajari dari lakon yang dimainkan didalam pertunjukan Wayang Golek, diantaranya tentang kesetiaan, kehormatan, dan juga balas budi.
Dalam satu pertunjukan Wayang Golek, biasanya ada sekitar 20 sampai 30 boneka yang dimainkan. Dan yang sering muncul dan telah dikenal masyarakat adalah Arjuna, Pandawa Lima, Cepot, Bima, Rahwana, Gatotkaca, dan para Kurawa. Sementara dalang-dalang yang digemari oleh para pecinta pertunjukan wayang adalah seperti Asep Sunarya, Ade Sunarya, Dede Amung. Itu dikarenakan dalang-dalang ini mempunyai keterampilan khusus dalam memainkan wayang, sehingga dapat menceritakan lakon yang diselingi humor, dan komunikatif dengan penontonnya.
Wayang Kulit telah muncul terlebih dahulu sebagai tradisi kuno yang hanya dimainkan dimalam hari dengan bantuan cahaya blencong, yaitu sejenis alat penerangan berbahan bakar minyak tanah. Kemudian pada tahun 1583, muncullah Wayang Golek. Pada awalnya, Sunan Kudus memperkenalkan boneka kayu sebagai alternatif pertunjukan yang bisa dimainkan pada siang hari. Boneka kayu inilah yang kemudian dikembangkan menjadi Wayang Golek khas dari Jawa Barat.
Pada awal-awal kemunculannya, bentuk wayang menyerupai figur manusia. Namun setelah kedatangan agama Islam, bentuk wayang lalu berubah dikarenakan agama Islam melarang pemeluknya menciptakan benda yang sangat mirip dengan seorang manusia.
Wayang Golek
Maka wayang pun berubah bentuk menjadi seperti makhluk yang sebenarnya bentuknya masih mirip dengan bentuk manusia, namun bagian-bagian tubuhnya sengaja dibuat untuk tidak proporsional tetapi tetap mewakili tokoh khusus. Di dalam pertunjukan Wayang Golek, sang dalanglah yang menggambarkan perasaan dari boneka-boneka yang dimainkannya, sekaligus menceritakan lakon atau cerita yang sedang dimainkan.
Lakon yang dimainkan dapat berupa cerita sempalan (yaitu cuplikan dari cerita sumber) atau carangan (yaitu cerita yang merupakan improvisasi dalang ketika mengadakan pertunjukan) atau langsung menggunakan cerita dari sumber seperti Mahabharata dan Ramayana.
Jika menggunakan cerita sempalan atau carangan, biasanya pertunjukan Wayang Golek ini hanya berlangsung dalam 4 (empat) atau 5 (lima) alur cerita, dengan durasi dalam hitungan jam. Namun jika menggunakan cerita sumber, durasinya dapat sampai semalam suntuk, dengan alur cerita yang lebih banyak dan juga kompleks. Banyak nilai yang dapat disampaikan atau dipelajari dari lakon yang dimainkan didalam pertunjukan Wayang Golek, diantaranya tentang kesetiaan, kehormatan, dan juga balas budi.
Dalam satu pertunjukan Wayang Golek, biasanya ada sekitar 20 sampai 30 boneka yang dimainkan. Dan yang sering muncul dan telah dikenal masyarakat adalah Arjuna, Pandawa Lima, Cepot, Bima, Rahwana, Gatotkaca, dan para Kurawa. Sementara dalang-dalang yang digemari oleh para pecinta pertunjukan wayang adalah seperti Asep Sunarya, Ade Sunarya, Dede Amung. Itu dikarenakan dalang-dalang ini mempunyai keterampilan khusus dalam memainkan wayang, sehingga dapat menceritakan lakon yang diselingi humor, dan komunikatif dengan penontonnya.
Baca Juga :
- Nyangku, Tradisi Pembersihan Benda-Benda Pusaka
- Longser, Kesenian Tradisional Dari Jawa Barat
- Rampak Gendang, Kesenian Tradisional Dari Jawa Barat
- Museum PETA di Bogor Jawa Barat
- Sejarah dan Perkembangan Tari Topeng Kelana Cirebon Jawa Barat
- Totopong, Ikat Kepala Khas Sunda
- Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa Kertajaya di Sukabumi Jawa barat
- Batik Garutan, Batik Khas Garut Jawa Barat
- Jeniper, Minuman Khas Kuningan Jawa Barat
- Kujang, Senjata Tradisional Dari Jawa Barat
- Tari Kandagan, Tarian Tradisional Dari Jawa Barat
- Angklung Gubrag, Alat Musik Tradisional Dari Jawa Barat
- Tari Mojang Jaipong, Tarian Tradisional Dari Jawa Barat
- Tari Bajidor Kahot, Tarian Tradisional Dari Jawa Barat
- Wayang Bambu, Kesenian Tradisional Dari Jawa Barat
Suka artikel berjudul Wayang Golek, Kesenian Wayang Dari Jawa Barat, Yuk bagikan ke:

